Suatu siang, saya berbincang-bincang dengan seorang teman. Menurut teman saya tersebut, setiap anak-anak Tuhan memiliki 'sekolah'nya masing-masing. Sekolah tempat Allah membentuk kita hari lepas hari. Contohnya, seorang mahasiswa tingkat akhir yang pandai dan terlalu mempercayai kemampuannya sendiri, ketika mencari pekerjaan dia mengalami kesulitan dan penolakan yang tidak disangkanya. Logisnya dengan IPK sewaw beliau dan pengalaman organisasinya yang segudang, mahasiswa ini diterima dong dimana saja, apalagi dia aktif pelayanan juga. Tapi Tuhan membiarkan dia mengalami berbagai penolakan. Kenapa? Hmm mungkin ini adalah 'sekolah' yang Tuhan berikan agar mahasiswa tersebut belajar untuk menggantungkan diri pada Tuhan bukan pada kemampuannya sendiri.
Dia katakan bahwa jika kita ditegurNya, diajarNya, bahkan dihajarNya, itu karna Dia peduli dan mengasihi Kita. Karna Dia ingin kita menjadi serupa dengan Dia, sempurna.
Saya rasa, saat ini pun Dia ingin saya belajar di sekolah-Nya. Sekolah kesabaran, sekolah 'tidak boleh egois lagi', sekolah tentang iman, dll. Yah mengingat betapa buruk dan jeleknya kelakuan saya, tentu banyak sekolah yang harus saya lalui. Memang tidak nyaman sih, sangat malah. Semuanya berusaha mengeruk dan memoles sifat-sifat keakuan kita.
Yah memangnya siapa bilang dipoles, dilatih, dan dididik itu enak..
Tapi saya rasa, selama kita percaya dan mau berserah untuk dibentukNya, tentu nanti hasilnya akan luar biasa kan? Seperti seorang atlet yang harus kesusahan dan kesakitan selama program latihan tapi semuanya dibayar ketika menjadi juara atau seperti seorang anak kecil yang harus susah payah belajar mengeja kata hingga dia bisa merasakan betapa nikmat dan bergunanya bisa membaca.. Yaaah harus rajin-rajin mengingatkan diri sendiri~~
Minggu, 09 Juni 2013
Jumat, 07 Juni 2013
Takdir
Fix sudah ada dua orang teman seangkatan saya di Matematika yang akan segera menikah. Sekitar dua minggu lagi teman saya akan melangsungkan pernikahannya.
Waaah ga sabar, pingin datang :D
Beritanya ini agak mengejutkan sebenarnya, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba teman saya mengumumkan akan segera menikah. Bahkan calon suaminya pun tinggal di Jepang.
Pertanyaan-pertanyaan penuh rasa penasaran pun muncul diantara teman-teman sepergaulan. Kapan pacarannya? Bagaimana kenalnya? Kok tiba-tiba? Yah begitulah. Dan ketika ditanyakan pada sang calon mempelai wanita, jawabannya adalah 'takdir'. Yah udah takdir aja.. Begitu jawabannya.
Takdir yaa..
"Jadi takdir itu apa dan seperti apa?" tanya saya dalam hati. Bagaimana seseorang bisa betul-betul meyakini bahwa ini adalah takdirnya, atau itu bukan takdirnya?
"Jadi takdir itu apa dan seperti apa?" tanya saya dalam hati. Bagaimana seseorang bisa betul-betul meyakini bahwa ini adalah takdirnya, atau itu bukan takdirnya?
Jujur saja belakangan ini saya sedang menggalaukan sesuatu. Saya bingung apakah saya harus segera bekerja setelah lulus atau melanjutkan sekolah saya ke program magister. Dan saya tidak pernah membayangkan bahwa saya menyerahkan keputusan-keputusan penting dalam hidup saya pada kata 'takdir'.
Saya berusaha menguraikannya dalam pikiran saya, meskipun terasa rumit dan aneh. Apakah takdir itu berasal dari Tuhan? Apakah Tuhan mentakdirkan segala sesuatu dalam hidup manusia dan segala usaha kita bermuara pada takdirnya? Ataukah seorang manusia diberi kebebasan oleh Tuhan untuk memilih jalan takdirnya? Apakah kita diberi kebebasan oleh Tuhan untuk menentukan bagaimana jalan hidup kita atau apapun yang kita jalani bahkan setiap pilihan kita sebenarnya sudah ditakdirkan?
Lalu, jika seorang manusia ditakdirkan untuk hidup susah misalnya, dapatkah dia merubah takdirnya dengan bekerja keras, atau selamanya dia akan hidup susah karna itu sudah takdir. Hmmm
Saya rasa, sulit menemukan jawabannya. Mungkin memang ada pertanyaan-pertanyaan di dunia ini yang selama kita masih menjadi manusia kita tidak akan menemukan jawabannya. Atau saya yang kurang berhikmatlah yang tidak memahaminya.
Teman saya mengatakan bahwa cinta dalam hidupnya termasuk pernikahannya yang tiba-tiba merupakan takdir. Yah meskipun saya tidak mengatakan atau menilai itu salah karna diluar kapabilitas saya, namun saya tetap tidak suka dengan penggunaan kata takdir. Seakan-akan seperti sesuatu yang tidak bisa saya ubah atau saya pilih.
Sungguh saya tidak memahaminya, tapi saya lebih suka mengatakan bahwa hidup saya, pilihan-pilihan dalam hidup saya, setiap langkah dan rencana saya, tidak saya gantungkan pada kata takdir tersebut, tapi pada hikmat dan kekuasaan Tuhan saya. Tuhan yang kepadaNya saya berdoa memohon tuntunanNya setiap hari, memohon belas kasihNya untuk mendengarkan doa-doa saya, harapan saya untuk masa depan yang penuh harapan. Saya tidak percaya pada takdir yang terkesan tidak peduli pada saya dan tidak bisa saya ubah. Saya percaya pada Dia, yang lewat kuasaNya dapat mengubahkan hidup saya..
CMIIW
Senin, 20 Mei 2013
Goodbye Sir, Goodbye Scholes
Aaaah, akhirnya bisa nulis jugaaaa.. Baru sempat sekarang.
Haaa, satu siang yang saya sudah lupa tepatnya hari apa, saya melihat berita di televisi bahwa Sir Alex memutuskan untuk mengundurkan diri alias pensiun. Agak speechless sejujurnya. Rasanya baru beberapa hari sebelumnya Manchester United memastikan diri meraih juara, kemudian muncul berita yang menggemparkan tersebut.
Selang beberapa hari, ternyata Paul Scholes, si 22, mengumumkan keputusannya untuk pensiun juga. Rasanya seperti harus kaget dan kehilangan dua kali.
Sebenarnya kedua legenda ini memang sudah cukup uzur yaa. Sudah waktunya bagi Sir Alex dan Scholesy beristirahat. Tapi tetap saja berita ini membawa kesedihan bagi fans. Termasuk saya.
Sejak kecil, saya sudah 'terbiasa' melihat Sir Alex memimpin tim. Melihat Sir Alex dari pinggir lapangan mengunyah permen karet sambil gelisah melihat jam tangannya. Kadang disertai omelan-omelan Opa yang memiliki kesan agak galak buat saya hehe.
Saya juga sudah bertahun-tahun melihat Paul Scholes mengenakan seragam merahnya. Memang Scholes sudah sempat pensiun, namun dipanggil kembali oleh Sir Alex. Ini adalah pensiun keduanya.
Saya rasa, tidak perlulah saya rinci berapa banyak dan berapa besar pengabdian kedua legenda ini. Yang jelas, sangat besar, banyak, dan luar biasa. Rasa terima kasih yang diucapkan pun rasanya tidak akan pernah cukup.
Saya hanya ingin mengungkapkan betapa luarbiasanya mereka bagi saya sebagai fans, dan bahwa saya akan sangat merindukan keberadaan mereka ketika saya menonton pertandingan..
Dan satu hal yang saya pelajari dari kedua legenda kesayangan saya setelah Mr. Giggs, adalah mereka bisa sesukses sekarang tentu bukan tanpa kerja keras, determinasi, loyalitas, dan etos kerja yang baik. Tidak akan ada seorang pun yang bisa sukses dalam bidang apapun tanpa hal-hal tersebut. Sir Alex dan Scholes membuktikan mereka adalah yang terbaik dalam profesi mereka masing-masing. Dan hal tersebut perlu kita teladani.
Good bye Sir!! Good bye Scholes!! The reds will miss you <3
Haaa, satu siang yang saya sudah lupa tepatnya hari apa, saya melihat berita di televisi bahwa Sir Alex memutuskan untuk mengundurkan diri alias pensiun. Agak speechless sejujurnya. Rasanya baru beberapa hari sebelumnya Manchester United memastikan diri meraih juara, kemudian muncul berita yang menggemparkan tersebut.
Selang beberapa hari, ternyata Paul Scholes, si 22, mengumumkan keputusannya untuk pensiun juga. Rasanya seperti harus kaget dan kehilangan dua kali.
Sebenarnya kedua legenda ini memang sudah cukup uzur yaa. Sudah waktunya bagi Sir Alex dan Scholesy beristirahat. Tapi tetap saja berita ini membawa kesedihan bagi fans. Termasuk saya.
Sejak kecil, saya sudah 'terbiasa' melihat Sir Alex memimpin tim. Melihat Sir Alex dari pinggir lapangan mengunyah permen karet sambil gelisah melihat jam tangannya. Kadang disertai omelan-omelan Opa yang memiliki kesan agak galak buat saya hehe.
Saya juga sudah bertahun-tahun melihat Paul Scholes mengenakan seragam merahnya. Memang Scholes sudah sempat pensiun, namun dipanggil kembali oleh Sir Alex. Ini adalah pensiun keduanya.
Saya rasa, tidak perlulah saya rinci berapa banyak dan berapa besar pengabdian kedua legenda ini. Yang jelas, sangat besar, banyak, dan luar biasa. Rasa terima kasih yang diucapkan pun rasanya tidak akan pernah cukup.
Saya hanya ingin mengungkapkan betapa luarbiasanya mereka bagi saya sebagai fans, dan bahwa saya akan sangat merindukan keberadaan mereka ketika saya menonton pertandingan..
Dan satu hal yang saya pelajari dari kedua legenda kesayangan saya setelah Mr. Giggs, adalah mereka bisa sesukses sekarang tentu bukan tanpa kerja keras, determinasi, loyalitas, dan etos kerja yang baik. Tidak akan ada seorang pun yang bisa sukses dalam bidang apapun tanpa hal-hal tersebut. Sir Alex dan Scholes membuktikan mereka adalah yang terbaik dalam profesi mereka masing-masing. Dan hal tersebut perlu kita teladani.
Good bye Sir!! Good bye Scholes!! The reds will miss you <3
Kamis, 25 April 2013
S-A-L-E
S-A-L-E, empat huruf menyebalkan yang sering membuat saya kewalahan.
Mengapa? Mengapa empat huruf menyebalkan ini seringkali dimanfaatkan para penjual untuk menjerat orang-orang seperti saya. Orang-orang menyedihkan seperti saya yang perhatiannya mudah sekali teralihkan oleh empat kata ajaib ini.
Tadi sore, saya diminta mengantar seorang teman pergi membeli sepatu untuk seminar. Saya pun menyanggupi, saya pikir ga apa-apalah itung-itung bantuin temen. Namun baru saja saya menginjakkan kaki disebuah pusat perbelanjaan di Kota Bandung, perhatian saya teralihkan oleh sebuah papan besar bertuliskan SALE up to 80% yang ditaruh di depan sebuah toko. Waaaah, langsung tekad dan fokus saya tergoyahkan. Padahal dari awal sudah menekadkan diri untuk cepat-cepat menyelesaikan acara belanja dan sesegera mungkin pulang kerumah. Dari awal pun sudah saya ingatkan berulang kali pada diri saya, inget rib, tanggal berapa nih sekarang, harus nyukup-nyukupin uang sampai akhir bulan. Namun semua buyar ketika melihat empat huruf tersebut. Dan ini bukan pertama kali loh. Mending kalau barang yang disale itu saya perlukan.
Sebenarnya saya tidak perlu-perlu amat, namun entah mengapa saya selalu merasa penasaran dan merasa menyesal jika saya mengabaikan empat huruf tersebut. Rasanya sayang gitu kalau saya tidak beli sesuatu, padahal diskonnya sebesar itu. Memang jadi murah sekali sih kalau cuci gudang..
Huuuft, entah apa yang harus saya lakukan. Empat huruf penuh daya magis penuh godaaan.. Kuncinya harus bijaklah yaa, dan selalu buru-buru menyadarkan diri.
Mengapa? Mengapa empat huruf menyebalkan ini seringkali dimanfaatkan para penjual untuk menjerat orang-orang seperti saya. Orang-orang menyedihkan seperti saya yang perhatiannya mudah sekali teralihkan oleh empat kata ajaib ini.
Tadi sore, saya diminta mengantar seorang teman pergi membeli sepatu untuk seminar. Saya pun menyanggupi, saya pikir ga apa-apalah itung-itung bantuin temen. Namun baru saja saya menginjakkan kaki disebuah pusat perbelanjaan di Kota Bandung, perhatian saya teralihkan oleh sebuah papan besar bertuliskan SALE up to 80% yang ditaruh di depan sebuah toko. Waaaah, langsung tekad dan fokus saya tergoyahkan. Padahal dari awal sudah menekadkan diri untuk cepat-cepat menyelesaikan acara belanja dan sesegera mungkin pulang kerumah. Dari awal pun sudah saya ingatkan berulang kali pada diri saya, inget rib, tanggal berapa nih sekarang, harus nyukup-nyukupin uang sampai akhir bulan. Namun semua buyar ketika melihat empat huruf tersebut. Dan ini bukan pertama kali loh. Mending kalau barang yang disale itu saya perlukan.
Sebenarnya saya tidak perlu-perlu amat, namun entah mengapa saya selalu merasa penasaran dan merasa menyesal jika saya mengabaikan empat huruf tersebut. Rasanya sayang gitu kalau saya tidak beli sesuatu, padahal diskonnya sebesar itu. Memang jadi murah sekali sih kalau cuci gudang..
Huuuft, entah apa yang harus saya lakukan. Empat huruf penuh daya magis penuh godaaan.. Kuncinya harus bijaklah yaa, dan selalu buru-buru menyadarkan diri.
Selasa, 23 April 2013
Tentang meminta dan mendapat
Membaca sebuah buku. Lalu ada pernyataan seperti ini, "Ketika kita benar-benar menginginkan sesuatu, kita malah tidak mendapatkan apa-apa, ketika kita meminta kita malah tidak diberi"
Saya 'merenungkan' pernyataan diatas, memang benar sih, sering kan mengalami, kalau kita sedang ingin sesuatu kita malah ga dapat-dapat. Tapi biasanya ketika kita tidak ingin, malah dapat.
Padahal, Tuhan kan berkata, Mintalah, maka akan diberikan padamu, carilah maka kamu akan mendapat, dan ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Saya jadi bingung. Sebenarnya saya harus mau dan meminta atau tidak sih?
Penulis buku yang sedang saya baca berkata bahwa jika memang ketika kita menginginkan sesuatu dan memintanya dengan sungguh dan ternyata Tuhan tidak memberi, itu sama saja dengan cerita tentang seorang anak yang meminta permen pada ayahnya, lalu sang ayah berkata, tidak, saya tidak akan memberikan kamu permen, namun ketika kamu sudah besar dan tidak menginginkannya lagi, saya akan memberi kamu permen sepuas-puasnya. Hmmm, rasanya agak gimana gitu yaa.
Sebenarnya jawabannya sudah jelas sih, tentu saja saya harus berpegang pada Alkitab kan? Lagipula sang penulis mengatakan hal diatas ketika dia menulis sebuah buku harian saat dia kehilangan istrinya yang meninggal dunia, dan mengalami kesulitan menerima kehendak Allah dalam hidupnya. Pernyataan dan kalimat-kalimat tersebut dia tulis dalam pencariannya tentang kehendak Allah yang sulit dipahami.
Tapi tetap saja, pernyataan-pernyataan tersebut mengganggu saya. Memang saya juga sering mengalami kok. Saya pun mendiskusikan pikiran-pikiran saya ini kepada seorang teman.
Dan jawabannya pun sangat memberkati saya, dia menjawab, mungkin bukan seperti itu rib seharusnya ceritanya. Lebih tepat cerita tentang seorang anak yang meminta permen pada ayahnya, dan berkata pada ayahnya bahwa dia menginginkan permen itu, tapi percaya bahwa ayahnya yang lebih tua dan mengetahui apa yang baik bagi dia, akan mengambil keputusan yang terbaik bagi dia.
Intinya tentang penyerahan dan bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Berkata, aku ingin sesuatu Tuhan, tapi aku bergantung sepenuhnya padaMu, jadilah sesuai kehendakMu. Dan yaa, ketika kita meminta sesuatu, kita pasti mendapat, tapi Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa yang akan kita dapat itu adalah selalu 'ya' untuk setiap keinginan kita. Kadang ketika kita meminta, Dia tidak memberi karna tahu itu bukan yang terbaik bagi kita, atau tahu bahwa waktunya belum tepat. :D
*tulisan yang agak kacau karna sedang berusaha menguraikan pikiran saya yang juga kacau
Saya 'merenungkan' pernyataan diatas, memang benar sih, sering kan mengalami, kalau kita sedang ingin sesuatu kita malah ga dapat-dapat. Tapi biasanya ketika kita tidak ingin, malah dapat.
Padahal, Tuhan kan berkata, Mintalah, maka akan diberikan padamu, carilah maka kamu akan mendapat, dan ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Saya jadi bingung. Sebenarnya saya harus mau dan meminta atau tidak sih?
Penulis buku yang sedang saya baca berkata bahwa jika memang ketika kita menginginkan sesuatu dan memintanya dengan sungguh dan ternyata Tuhan tidak memberi, itu sama saja dengan cerita tentang seorang anak yang meminta permen pada ayahnya, lalu sang ayah berkata, tidak, saya tidak akan memberikan kamu permen, namun ketika kamu sudah besar dan tidak menginginkannya lagi, saya akan memberi kamu permen sepuas-puasnya. Hmmm, rasanya agak gimana gitu yaa.
Sebenarnya jawabannya sudah jelas sih, tentu saja saya harus berpegang pada Alkitab kan? Lagipula sang penulis mengatakan hal diatas ketika dia menulis sebuah buku harian saat dia kehilangan istrinya yang meninggal dunia, dan mengalami kesulitan menerima kehendak Allah dalam hidupnya. Pernyataan dan kalimat-kalimat tersebut dia tulis dalam pencariannya tentang kehendak Allah yang sulit dipahami.
Tapi tetap saja, pernyataan-pernyataan tersebut mengganggu saya. Memang saya juga sering mengalami kok. Saya pun mendiskusikan pikiran-pikiran saya ini kepada seorang teman.
Dan jawabannya pun sangat memberkati saya, dia menjawab, mungkin bukan seperti itu rib seharusnya ceritanya. Lebih tepat cerita tentang seorang anak yang meminta permen pada ayahnya, dan berkata pada ayahnya bahwa dia menginginkan permen itu, tapi percaya bahwa ayahnya yang lebih tua dan mengetahui apa yang baik bagi dia, akan mengambil keputusan yang terbaik bagi dia.
Intinya tentang penyerahan dan bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Berkata, aku ingin sesuatu Tuhan, tapi aku bergantung sepenuhnya padaMu, jadilah sesuai kehendakMu. Dan yaa, ketika kita meminta sesuatu, kita pasti mendapat, tapi Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa yang akan kita dapat itu adalah selalu 'ya' untuk setiap keinginan kita. Kadang ketika kita meminta, Dia tidak memberi karna tahu itu bukan yang terbaik bagi kita, atau tahu bahwa waktunya belum tepat. :D
*tulisan yang agak kacau karna sedang berusaha menguraikan pikiran saya yang juga kacau
Jumat, 19 April 2013
Bahagiaaa
Suara rintik-rintik hujan terdengar dari dalam rumah. Duduk di pinggir jendela dengan segelas susu coklat panas. Sesekali menghirup aroma hujan yang saya sangat sukai.. hmmm. Rintik-rintik air yang turun seperti butiran-butiran kristal dari langit.
Lantunan suara merdu John Mayer, salah satu penyanyi favorit saya selain mas Adam Levine pun ikut melarutkan suasana hati. Sempurna, begitu pikir saya.
Waaah, sederhana tapi membahagiakan.
Dia membuat rintik hujan, aromanya yang bersih dan segar, segelas susu hangat, dan suara merdu seorang penyanyi ditambah dengan kepiawaiannya merangkai nada menjadi berkat dan kebahagiaan bagi manusia. Dia mampu membuat hal-hal kecil menjadi indah. Yang menjadi penghalang antara kita dengan bahagia itu hanya apakah kita mau memberi waktu sejenak untuk melihat dan menikmatinya. :D
Lantunan suara merdu John Mayer, salah satu penyanyi favorit saya selain mas Adam Levine pun ikut melarutkan suasana hati. Sempurna, begitu pikir saya.
Waaah, sederhana tapi membahagiakan.
Dia membuat rintik hujan, aromanya yang bersih dan segar, segelas susu hangat, dan suara merdu seorang penyanyi ditambah dengan kepiawaiannya merangkai nada menjadi berkat dan kebahagiaan bagi manusia. Dia mampu membuat hal-hal kecil menjadi indah. Yang menjadi penghalang antara kita dengan bahagia itu hanya apakah kita mau memberi waktu sejenak untuk melihat dan menikmatinya. :D
Langganan:
Postingan (Atom)
